Risalah Hati Bab 11: Opname

Risalah Hati Bab 11: Opname

Ada banyak murid lain berbondong-bondong berlari menuju kelas Ipa 2. kelas yang begitu berisik yang membuat kami semua bertanya-tanya. ada apa? Iis yang tadinya tidak ingin ambil pusing karena baginya kelas ini memang berisik tiap hari bukanlah hal yang baru.

“Ini semua itu gara-gara kamu Gea!”

“Kalau sampai Kiana meninggal itu juga karena lu! karena ide gila yang ada diotak kotor lu Gea!” teriak indri makin kencang membuat semua yang mendengar terkejut. Iis yang mendengar tertegun, matanya langsung menatap kearah Indri dan Gea. Seketika Gea hanya tertunduk dan wajahnya begitu pucat, dia mengenggam erat kedua tangannya tanpa satu pun kata yang keluar dari bibir merahnya.

“Maksud kalian apa?” Iis meletakkan tasnya dan menghampiri keribuatan antara mereka. Karena tidak ada jawaban ataupun kata yang bisa memenangkan hati Iis, terpaksa keributan ini harus dilaporkan kepada wali kelas, ancam Iis.

“Iiiissss…” suara bergetar Gea membuat hati Iis makin memanas dan ingin segera menampar muka yang begitu menjengkelkan tetapi dia harus menahan emosinya untuk saat ini.

“Kalian semua kok bisa sekejam dan tega untuk ngikuti semua rencana yang dibuat Gea? gue tanya memangnya Kiana ada salah apa sama kalian? Hah!” Iis meninggikan suaranya.

Plakkkk

Tamparan keras mendarat dipipi Iis dan memperlihatkan senyuman tipis diwajah Gea. Tanpa basa basi Iis langsung menarik rambut panjang Gea dan membalas tamparan itu berkali-kali lipat.

“Lu pikir gue diam selama ini karena gue takut sama lu, enggak!” Iis yang sudah geram dengan tingkah Gea membuat emosinya makin memanas. Saat Iis sudah puas akhirnya dia melepaskan semua rambut Gea dan dia juga tersenyum karena Gea tidak bisa membalas.

Andre dan Ciko memasuki kelas, mereka berdua terheran melihat tangan Iis yang penuh dengan rambut dan muka Gea memerah.

“Huhhh…” Ciko menghela nafas dan menatap¬† Iis dan Gea yang sedang menjadi tontonan semua murid sekolah. Gea langsung memeluk Ciko dan menangis.

Saat Gea ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya, Ibu Novi wali kelas kami datang dan membuat kamu semua duduk dikursi masing-masing.

“Gea, ikut ibu kekantor. Kalian semua buka halaman sebelas dan kerjakan soal latihan dan sebelum jam istirahat buku kalian sudah ada dimeja ibu.” perintah ibu Novi dan langsung berjalan keluar sedangkan Gea mengekor dibelakang ibu Novi.

Guru yang belum memasuki kelas untuk mengajar menggelengkan kepala dan menantap Gea masih belum percaya apa yang dilakukan muridnya. Saat Gea memasuki ruangan wali kelas dia sudah siap menerima hukuman yang akan diberikan untuknya dan Gea hanya tertunduk diam.

“Duduk Gea…” suara lirih ibu Novi menyuruh Gea untuk duduk.

“Kamu tahu kelakukan kamu itu bisa membunuh seseorang yang karena iseng?”

“Ta..ta…t…a…pi.. bu..? Gea mencoba menjawab dengan terbata-bata.

“Kamu ibu skors selama satu minggu!”¬† Ibu Novi memberikan surat resmi dari kepala sekolah bahwa mulai besok dan satu minggu kedepan dia dilarang untuk kesekolah.”

Mendengar perkataan ibu Novi, Gea menangis dan merasa menyesali perbuatannya pada Kiana.

“Kiana maafi Gea… besok Gea akan besuk kamu dan langsung meminta maaf saam orang tua kamu juga. hiks..” Gumam Gea dan air matanya menetes dengan deras.

“Sampai saat ini Kiana belum sadarkan diri dirumah sakit, semoga kamu bisa belajar dari kejadian ini untuk kedepannya Gea.” Ibu Novi menepuk pelas punggung Gea dan beliau juga merasa sedih.

*

Dikelas semua kami semua mulai memikirkan bagaimana kabar Kiana sekarang dan juga kami harus menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Iis yang sedari tadi masih begitu kesal dengan kelakukan Gea dan Indri makin membuat dia surat untuk berkonsentrasi dan malah merobeki dan meremuk kertas yang dia ambil dari buku tulis miliknya.

“Kiana dirawat dirumah sakit apa dan kamar berapa?” tanya Andre dan pertanyaan itu makin membuat Iis kesal dan menatap Andre dengan sangat tajam.

“Nggak tahu!” jawab Iis ketus.

“Kiana dirawat dirumah sakit Permata lantai dua nomer 207 kelas mawar” sambung Ciko yang berjalan menghampiri meja Iis.

“Kok lu tahu sih?”

“Oh… itu karena kemaren gue sempet mau mampir kerumah Kiana nyusul kalian tetapi dijalas nggak sengaja gue harus berurusan sama ibu-ibu ya.. you know lah. Pas urusan sudah selesai dan mau kerumah Kiana gue lihat kedua orang tua Kiana begitu cemas dan gue pun langsung kepikiran untuk ngikuti mobil orang tuanya”

“Jadi lu ikutan kerumah sakit?” tanya Andre yang masing belum percaya.

“Iya saat semua sudah sedikit tenang gue langsung menghampiri kedua orang tua Kiana, Ibu Kiana hanya diam dan nggak berhenti menangis dan gue yang lihat langsung ikutan sedih. Semua kejadian kemarin diceritakan oleh Ayah Kiana.” Ciko mencoba menceritakan kejadian apa yang dia ingat kemarin.

“Pantes kemarin Kiana banyak melamun dan dia aja saat kita besuk dia kerumah.” Iis mengangkat alisnya “Dan juga ini semua tu gara-gara lu Ndre! kalau lu nggak naksir sama Kiana pasti cewek gila nan tolol itu nggak akan berbuat senekat itu.” Iis juga ikut menyalahkan Andre.

“Iis maafi gue yaa.. iya gue salah” Andre merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Kiana saat disekolah gara-gara Gea.

“Sekalian juga, Kiana menyukai Fian. Cinta lu nggak akan diterima sama Kiana jadi sebelum dia merasa makin nggak enakan sama lu mending tu rasa cinta lu untuk Kiana disimpan baik-baik.” walaupun dengan lantang Iis sebenarnya juga merasa kasian tetapi dia juga tidak ingin membuat Andre sakit hati.

“Ngenes banget sih Andre hahaha” Ciko yang tadinya seperti kurang baterai sekarang tertawa terbahak-bahak saat cinta sohibnya ditolakan duluan.

“Berarti benar yaa, gosip yang bilang kalau Kiana menyukai Fian dari kelas 10?” Ciko menyilangkan tangannya.

“Gimana ceritanya, Kiana aja baru menyukai Fian akhir-akhir ini kok.” Iis membantah gosip tentang sahabatnya.

Lagi-lagi Ciko meledeki Andre dan memberikan gelar sad boy tahun ini. Gea memasuki kelas dan mengambil tasnya dan langsung keluar kelas lagi.

“Gea tunggu..” panggil Andre “Gue yang antar boleh?” tanya Andre pelan.

“Nggak usah” jawab Gea.

Andre mencoba menghargai penolakan pertama dari Gea. Kertas merah yang tadi Gea masukkan kelas tasnya adalah surat yang diberikan ibu Novi untuknya kalau dilihat dari warnanya bisa satu minggu hukuman yang diterima Gea.

“Yah, cuma kertas merah. Padahal gue berharap dia dapat keras hijau biar pindah aja dia dari sekolahan ini.”

Like & Share