Share

Risalah Hati Bab 1: Perkenalan

Namaku Kiana Algerita biasa di sapa Kiana atau Kia. Disinilah awal kisah cintaku dimulai.

Hari ini adalah hari pertama kami masuk sekolah. Aku sangag bergembira dan bersemangat, Ku lihat baju putih abu-abu dan atribut sekolahku sudah siap untuk ku kenakan. Aku tersenyum. Setelah berpakaian rapi aku mengambil sepatu sekolahku berwarna hitam dan tidak lupa kaos kaki berwarna putih.

Satu persatu ku turuni tangga kamarku. Ibu tersenyum padaku dan ayah menyuruhku untuk sarapan bersama sebelum berangkat ke sekolah. Selesai sarapan aku berpamitan.

Gang rumahnya ramai sekali, karena ini bukan gang yang kecil mobil saja bisa melewati gang ini. Akhirnya langkahku terhenti dan angkot langganan sudah datang.

Aku pun langsung menaik angkotan dan ternyata didalam angkotan sudah ada penumpang lain, aku hanya lemparkan senyuman dan duduk di kursi yang sudah ku pilih.

“Kak Kia” sapa seseorang yang duduk disampingku.

“Lah? Hanin” aku menoleh kesamping kiriku.

Hanin menatapku dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.

*

Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Aku bergegas masuk ke kelas dan menaruhkan tasku dimeja sambil mengumpulkan oksigen sebelum aku pergi ke ruangan OSIS untuk mempersiapkan kelengkapan untuk upacara pagi ini.

“Pengurus osis yang lain kemana, belum datang?” Tanyaku saat aku memasukk ruangan OSIS

“Belum pada datang kak, jadi siapa dong yang akan jadi petugas upacara” tanya salah satu pengurus OSIS.

“Hmm… kalau gitu Yesi jadi Mc, haru pembaca doa, Lila pembaca undang-undang, Kiki baca janji siswa” Kataku.

Semua setuju dengan saran yang aku usulkan, kami semua langsung pergi kelapangan sekolah.

“Kia, petugas penaik bendera siapa?” tanya Fian selaku ketua OSIS.

“Panggil anggota paskib sajalab, biasanya juga mereka udah siap” Kiana mengangkat alisnya sebelah

“oke” jawab Zian.

Setelah persiapan upacara sudah siap dan selesai. Tidak lama bel di kantor berbunyi.

Semua murid berkumpul di lapangan sekolah untuk mengikuti Upacara Bendera. Kami semua berbaris rapi dan tertib sesuai dengan kelas masing-masing.

Selesai upacara, semua pengurus OSIS membereskan atribut yang dipakai untuk Upacara Bendera tadi dan menyimpannya kembali diruangan OSIS.

“Kiana….” Sapa Iis.

“Iya, ada apa nih kok lu senyum-senyum gitu” Jawabku.

“Kantin yok, beli minum” Iis tersenyum.

“Ayoklah gue juga haus nih” aku menggandeng tangan Iis dan kami berdua berjalan ke kantin.

Iis adalah sahabatku, kami berdua kenal karena satu organisasi. Bahkan sebelumnya kami beda kelas saat kelas sepuluh dan kelas sebelas tapi saat kelas dua belas kami berdua satu kelas dan duduk satu bangku.

“Duduk berdua ya sama gue” Iis menatap Kiana penuh harap sambil memegang botol Aqua.

“Haha boleh boleh, ngomong-ngomong tadi gue udah narok tas didalam kelas” aku menatap Iis. Kami berdua saling pandang dan langsung berlari kearah kelas.

Aku menghela nafas panjang saat memasuki ruangan kelas, aku duduk dibangku milikku dan disusul oleh Iis.

Iis menghela nafas dan berhenti didepan meja guru. Apalagi setelah dia tahu kalau aku memilih tempat duduk di pojok.

“Kita duduk disana?” Iis menunjuk bangku kosong paling pojok nomer dua dari belakang.

“Serius” jawabku dengan tegas.

“Selain disini kita mau duduk dimana semua bangku sudah ada yang dudukinya” Iis mengangkat kedua bahunya.

“Wajar sih, karena kita berdua telat masuk kelas karena kita kemarin mengikuti kegiatan (MOS) Masa Orientasi Sekolah bagi calon murid sekolah kita” melirik ke Iis dengan wajah melas.

“Nah itu lu tahu tempat duduk itu yang hanya tersisa untuk kita berdua” Iis hanya bisa tersenyum simpul.

Akhirnya kami berdua duduk dibangku yang aku pilih, tidak lama dari kami duduk dibangku kami. Wali Kelas kami memasuki ruangan kelas.

Ibu Novi adalah Wali Kelas XII Ipa III beliau mengajar mata pelajaran Biologi.

Aku memasang wajah malas, karena bu Novi merupakan guru yang kurang ku sukai. Bu Novi dulu pernah menjadi mengajar mata pelajaran Biologi saat kelas sepuluh dan beliau memang terkenal guru jarang masuk kelas dan hanya memberi tugas, tugas dan tugas saat pelajarannya dan tugas tersebut tidak pernah diperiksa.

“Yaelah, kenapa harus Bu Novi sih yang jadi wali kelas kami” gumamku dalam hati.

Selain aku, ternyata semua pada antusias dan bahagia saat mengetahui bu Novi adalah wali kelas kami. Mereka pasti bahagia kalau jam pelajaran kosong. Mengingat bu Novi adalah wali kelas kami maka jam mata pelajarannya penuh dan akan selalu ada jam kosong.

Karena hari ini pertama masuk sekolah kamu membersihkan ruangan kelas terlebih dahulu sebelum memulai pelajaran. Selain bersih-bersih kelas dihari yang sama kami juga akan menentukan siapa pengurus kelas seperti ketua kelas dan wakil kelas, sekretaris dan wakil sekretaris, bendahara kelas dan keamanan kelas.

Selesai melakukan voting untuk pengurus kelas, sekarang kami semua sepakat untuk menentukan uang kas kelas. Kami semua pun menyetujui untuk uang kas dua ribu per bulan dan untuk perlengkapan lainnya kami semua patungan uang lima belas ribu untuk keperluan kelas seperti beli sapu, ember, kemoceng, lap, kain pel dan lain-lain.

Saat membersihkan kaca jendela kelas, aku menoleh ke arah kelas sebelah dan kebetulan Fian juga melihat. Mata kami saling memandang. Tanpa sadar aku tersenyum tipis tapi Fian cepat-cepat memalingkan wajahnya.

Tidak hanya berwajah tampan Fian Orlando juga memiliki otak yang genius. Fian siswa berprestasi. Bak di dunia novel, Fian adalah ketua Osis, presiden sekolah, dan menjadi ketua kelas setiap tahunnya. Selain itu Fian juga menjadi kapten basket dan sepakbola yang membuat tim sekolah kami masuk turnamen. Prestasi lainya dia pernah juara debat bahasa inggris dan membaca saat OSN.

Bukan hanya di sukai di kalangan guru dan siswa sekolah kami saja, Tapi dia juga terkenal diluar sekolah.

Darrr! Suara keras yang terdengar ditelingaku membuat aku begitu kaget dan spontan aku memukul pundak Iis.

“Astagfirullah! kaget gue dasar Iis!”

“Aw, sakit!” Iis mengelus pundaknya yang habis dipukul olehku.

“Lu suka sama tu anak ya hehe” ledek Iis

“Bukan suka tapi lebih kagum aja sih” aku tersenyum malu tanpa mengakui perasaanku yang sebenarnya. Siapa yang tidak menyukai sosok Fian .

“Bedanya dimana markonaaaaa!” teriak Iis yang membuat telingaku terasa hilang pendengaran dalam beberapa detik.

“Beda tulisan” aku terkekeh saat melihat ekpresi wajah Iis yang mulai kesal. dia merapikan rambut dan baju putihnya.

Kami berdua pun akhirnya terkekeh sambil membersihkan jendela kelas bersama.

“Eh, kalian berdua punguti juga itu sampah yang di dalam selokan, sekalian kalo udah beres lap kaca jendela dari dalam juga” perintah ketua kelas dengan gaya songongnya

“Lu siapa nyuruh-nyuruh, lu pungut aja sendiri!” jawab ketus Iis

“Kok lu ngegas, gue bilangi sama Bu Novi baru tahu rasa” timbal ketua kelas tidak mau kalah.

“Bilangi sono, nggak takut gue!” gertak Iis dan kedua tangannya sudah di pinggang.

Iis menantang ketua kelas, tatapan wajah yang garang membuat ketua kelas kami masuk kembali kedalam kelas dan mengoordinasi yang lainnya. Suasana kembali jadi tentram.

“Kia, lu kenal nggak sama tu cowok” Iis menunjuk kearah papan tulis yang sedang membersihkan papan tulis.

“Nggak” jawabku singkat sambil membawa ember dan lap masuk dan masuk kedalam kelas.

“Dia satu sekolahan sama lu waktu SMP” sambung Iis sambil menatapku yang sibuk membersihkan kaca jendela bagaian dalam.

“Hmm!” mendengar perkataan Iis aku mencoba untuk mengingat siapa cowok yang dimaksudkan Iis. Tapi tidak ada memori SMP yang terlintas. Kosong.

“Udah udah kalau nggak tau, biar gue aja yang kasih tau. Namanya Andre dia juga terkenal sama seperti Fian, dia juga salah satu siswa kesayangan ibu Rosa. Guru matematika yang akan mengajar kita” mendengar perkataan Iis aku mengangguk pertanda paham apa yang dia kata.

“Gue waktu kelas sebelas satu kelas sama dia. Andre itu orangnya baik sama ramah lho”

“Terus….” jawabku penasaran. ” Ngomong-ngomong gue malahan kenal sama cowok yang itu?” aku menunjuk cowok yang berada disamping Andre.

“Ciko?” tanya Iis sambil menyilangkan tangan.

“Iya, waktu kelas sebelas gue satu kelas hahaha” aku pun ketawa karena teringat hal lucu tentang Ciko kami dikelas sebelas.

“Dia ketua Rohis” Iis langsung menatap wajah Kiana.

“Great! Ciko kalau sudah Adzan suaranya bagus banget tau” Aku sangat antusias menceritakan Ciko tapi respon Iis biasa saja.

Aku menghela nafas karena respon sahabatku yang biasa saja dan dia malah mengajakku membereskan ember dan lap karena kerjaan kami berdua sudah selesai.

“Yok” Iis mengambil ember dan lap ditanganku “lu duluan aja duduknya, gue mau beresi ini dulu ya” tanpa mendengar jawabanku dia sudah pergi keluar kelas. Syukurlah rasanya memiliki sahabat seperti dia.

Beberapa menit, Iis kembali lagi kedalam kelas.

“Andreeee” teriak Iis membuat satu kelas menoleh kearah Iis, aku langsung menutupi wajahku dengan buku tulis karena malu. Bisa-bisanya dia teriak kencang banget.

Tanpa menjawab panggilan Iis, dia malah langsung menghamapir tempat duduk kami.

“Kenalan dong sama temen gue” Iis menyenggol bahuku dan aku meletakkan buku yang tadi menutupi wajahku.

“Apaan sih, udah kenal kali” cetusku pada Iis dan melirik kearah Andre.

“Kiana ya?” Andre mengulurkan tangan kananya.

“Iya, udah kenal kan” aku mengambut uluran tangannya dan bersalaman tanpa perkenalan kami pertama dan menarik kembali tanganku.

“hehe iya udah kenal kok” Andre tersenyum.

“Nanti pas pelajaran matematika gue sama Kiana nyontek sama lu yah” sambung Iis sambil memasang wajah tanpa dosa.

“Iis…. kok lu ngomong gitu. Malu tau” mendengar perkataanku, Andre tersenyum dan menganggukan kepalanya seperti menyetujuhi perkataan Iis. Mereka berdua saling memandang, lagi-lagi Andre hanya tersenyum sedangkan Iis merasa bangga karena sudah mendapatkan ‘Math King‘ dikelas

Melihat kami asyik mengobrol Ciko pun datang menghampir kami bertiga dengan wajah lugunya yang kepo.

“Hayo kalian lagi bahas apaan”

Kami bersama menjawab “Kepoo!” mendegar jawaban kami Ciko syok dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

” Kalian udah tau belum sama Andre” Ciko menepuk-nepuk pundak Andre “Dia ini memang rajanya matematika tapi sayang dia jomblo hahaa” perkataan Ciko tepat sasaran menembus hati Andre karna kata-kata awalnya begitu manis tapi diujung perkataan malah menjatuhkan.

Mendengar ledekan Ciko kami semua tertawa, entah apa yang membuat lucu yang penting ketawa dan menikmat obrolan yang tidak jelas karena hari ini jam kosong. Kami semua saling berkenalan dan bercanda bersama sampai bunyi bel pulang sekolah.

Note: OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), OSN (Olimpiade Sains Nasional).

Baca Juga:
Sinopsis Novel Risalah Hati

Like & Share